Sabtu, 15 November 2014

Cupping Kopi? Opo Iku?




"Le minggu kosong gak? melu aku cupping kopi?"

kira kira begitulah ajakan teman saya, saya tidak tau appa itu cupping kopi saya hanya mengiykannya karena saya suka sekali minum kopi. ya, saya hanya peminum kopi pasif yang tidak tahu menahu tentang kopi itu sendiri secara mendalam. yang jelas saya suka ngopi itu aja,

minggu pun tiba, saatnya saya menjemput teman saya dan mencari tahu apa itu cupping kopi, sebenarnya saya bisa mncari tahu sebelumnya apa itu cupping kopi tapi nggak saya lakukan nanti nggak surpprise, biarlah saya melihat sendiri apa itu yang disebut cupping kopi.

setelah sedikit kebingungan akhirnya saya dan teman saya -nuran- sampai di COFFE LIFE, salah satu kedai kopi di bilang pondok labu, jakarta selatan, teman saya membawa satu pack kopi yang siap untuk di-cupping, belakangan saya tahu nama kopi itu Liberika.


setelah sedikit intermezzo dengan sang empu dari CoffeLife, mulailah disiapkan segala sesuatunya untuk cupping kopi ini, disinilah teman saya mulai sedikit menjelaskan apa itu cupping kopi? cupping kopi itu untuk melihat potensi dari si kopi itu sendiri, apakah kopi ini cocok di buat cappucino, espresso atau malah lebih cocok dibuat kopi tubruk dan dari proses cupping ini kita bisa melihat apa saja kekurangan dari pe-mrosesan kopi ini, mulai dari tanam, jemur bakan proses sangrainya..

proses cupping ini juga untuk menilai tingkat keasaman, kemanisan, aroma dan rasa buah (hah?? buah rasa buah?? kopi itu buah kan ya??) yang terkandung dalam kopi, cukup ribet emang proses cupping ini karena dari proses cupping inilah penentuan masa depan sang kopi, butuh penciuman yang tajam
serta sensitivitas lidah level dewa, dan saya hanya menganggukkan kepala, menganguk bego!

oke, proses cupping dimulai, kopi liberika yang nuran bawa tadi akan diadu dengan 2 varian kopi lainya, panama dan satunya saya lupa, kopi digiling dengan 2 varian kasar dan halus, kemudian diseduh dengan air mendidih yang sudah didiamkan beberapa saat, lalu kopi yang sudah diseduh tadi didiamkan selam kurang lebih 4 menit, oh iya bubuk kopi tadi diseduh tanpa gula.


nuran sedikit juga menjelaskan bahwa ada manner dalam cupping kopi ini, seperti harus mencelupkan lagi sendok yang telah digunakan untuk mencicipi kopi ke dalam air dan minum air putih setelah mencicipi kopi untuk mencicipi kopi yang lain..



mulailah nuran, temannya dan beberapa barista di CoffeLife memulai proses menentukan masa depan sang kopi liberika, pertaman mulai membiak permukan kopi untuk mencium aroma kopi tersebut, saya sih lebih suka menggunakan istilah mengendus, lalu mulai menyedok dan srupuuuuuuuuuuut, entahlah emang harus seperti itu mereka menyeruput kopi dengan kecepatan maksimal sehingga mengeluarkan suara yang awalnya bikin saya kaget... srupuuuuuuuuuuuut!!!!!!

saya hanya mengikuti proses cupping ini seperti yang sang barista lakukan, karena saya takut salah dan salah itu memalukan,setelah proses icip-icip selesai mulai lah diskusi dilakukan untuk menentukan potensi apa yang di miliki kopi tersebut dan bagaimana peluang ya untuk berhadapan face to face dengan varian kopi yang sudah bayak beredar di indonesia, robusta dan arabika

kesimpulan saya sih cupping kopi ini seperti blind audition pada acara musik the Voice amerika yang pernah saya tonton juri cukup mendengar saya suara penyayi tanpa melihat keutuhan si penyayi tersebut, kalo menurut juri suaranya punya potensi meraka akan pilih, kurang lebih sih begitu..

Manchester United kalah malam itu dan kami nyasar dalam perjalan pulang membuat teman saya sedikit murung, untunglah sepiring lontong sayur dapat sedikit mengobati kekesalah gegara tim kesayangan kalah...

Rabu, 12 November 2014

Pengen Main Basket Lagi



Hari ini saya nonton sebuah film dokumenter tentang sebuah team basket Universitas di amerika berjudul The Fab Five,di sela-sela jam kantor yang semakin menantang (baca:membosankan) saya butuh pengalihan yang tepat untuk mengembalikan mood menjadi on-track lagi,

The Tabs Five bercerita tentang team basket Michigan University yang berlaga di kejuaraan NCAA, film documenter ini bercerita lengkap sekali tentang Michigan pada periode medio 90-93, mulai dari perekrutan pemain hingga drama dalam pertandingan, persahabatan sampai kebencian terhadap lawan dan hingga akhirnya kontroversi yang mengakhirinya.

foto by Google




The Fabs Five adalah sebutan dari 5 orang freshman yang tampil sebagai starter di setiap pertandingan Michigan di kompetisi bola basket NCAA, mereka disebut the fabs five karena pada saat itu memang tidak lazim menurunkan 5 orang freshman sebagai starter kebanyakan team yang berlaga di ncaa menurunkan kombinasi pemain senior, junior dan freshman.

Juwan Howard, Crish Webber, Jelone Rose, Ray Jakson, dan Jimmy King adalah yang kemudian di sebut the fabs five, serta sang juru latih steve fisher menguasai kompetisi bolabasket NCAA era 92-93, menjadi juara? tidak, justru the fabs five tidak pernah memanpang banner juara national NCAA, pada tahun 92 Michigan masuk final dan melawan DUKE University dan mereka kalah, jelas, karena the fabs five adalah freshman yang melawan defending champhion,

Para pengamat dan sport writter di detriot menyebut The fabs Five belum memiliki mental juara..

Pada 93, Michigan kembali masuk final dan pada tahun itu mereka melawan UNC, team yang menurut para pengamat dam journalist kualitas masih dibawah Michigan. kontroversi terjadi, Michigan kembali kalah secara "sengaja"...

Pada 93 itu juga setelah kekalahan dari UNC the fab five pun bercerai masing masing dengan siap menatap NBA, kompetisi basket yang mereka impikan..



-------------


sengaja diceritakan tidak lengkap, nonton sendiri aja.. seru...


------------


saya juga pernah punya tim basket sekolah dan fakultas/universitas, tapi team basket sekolah (SMA) menurut saya adalah team terbaik saya -SMA 1 ARJASA-JEMBER-, entahlah kenapa team basket sma yang saya banggakan padahal team saya ini tidak pernah juara, kalo masuk final sering tapi gak pernah juara, malah salah satu guru sekolah kami mengejek kami dengan sebutan team nomor dua, tak apalah jelas kami bangga dengan apa yang kami peroleh saai itu...

Kalo team lain prestasinya naik turun dari juara menjadi peringkat 3 atau sebaliknya kami malah konstan dengan posisi ke-2, sekali lagi kami bangga dengan torehan itu. bermain basket di masa sma itu luar biasa, yang kami bela hanya satu nama sekolah,-bodo amat sekolah yang acuh dengan kebutuhan kami waktu itu-, kita, pemain selalu bangga ketika nama sekolah dipanggil, uforia penonton masa sma itu seru luar biasa, banyak chant yang bisa membuat kami bersemangant bermain, contoh aja "kalah Rusuh", ya rusuh jaman sma itu halal....

Kalo pertandingan favorit saya waktu sma itu adalah final HEXOS CUP 2004 dan semifinal ITS Cup 2004, di dua ajang itu team saya jelas tidak juara, keduanya hanya harus puas di tempat kedua alias Runner-Up, saya tidak pernah menyebut posisi ke dua itu juara karena juara ya cuman satu..

Kalo di total mungkin kami punya sekitaran 4-5 koleksi trophy posisi ke 2 dan berarti kita juga 5 kali di panggil ke depan saat upacara untuk pemberian sambutan dari kepala sekolahdan kami bangga walau sedikit, andaikan kami juara pasti... ah.. sudahlah...

Jodi, Sujud, Nuris, Romi, Reza, Agung, Ben, Soni, mereka adalah teammate saya, dari kami tidak ada yang special oleh karena itu kami lebih memilih bermain secara kolektif dan buah dari ke-kolektif-an kami adalah posisi ke dua setiap kejuaraan yang kami ikuti,

Kami waktu itu dilatih oleh pelatih yang menurut saya sangat berpengaruh, kami memangilnya Mas Hari pelatih yang selalu mengajarkan dan menekankan fundamental basket kepada kami, menurut dia fundamental itu penting, kalo sudah paham silahkan kembangkan sendiri...

Karena ingatan saya terbatas dan saat itu juga masih jamannya handphone nokia 3310 jadi kecerian bermain basket di jaman sma tidak terdokumentasi dengan baik




Sekarang setelah hampir 10 tahun dari masa sma saya selalu rindu bermain basket dengan teman sma saya..

Semoga mereka juga demikian.....