"Le minggu kosong gak? melu aku cupping kopi?"
kira kira begitulah ajakan teman saya, saya tidak tau appa itu cupping kopi saya hanya mengiykannya karena saya suka sekali minum kopi. ya, saya hanya peminum kopi pasif yang tidak tahu menahu tentang kopi itu sendiri secara mendalam. yang jelas saya suka ngopi itu aja,
minggu pun tiba, saatnya saya menjemput teman saya dan mencari tahu apa itu cupping kopi, sebenarnya saya bisa mncari tahu sebelumnya apa itu cupping kopi tapi nggak saya lakukan nanti nggak surpprise, biarlah saya melihat sendiri apa itu yang disebut cupping kopi.
setelah sedikit kebingungan akhirnya saya dan teman saya -nuran- sampai di COFFE LIFE, salah satu kedai kopi di bilang pondok labu, jakarta selatan, teman saya membawa satu pack kopi yang siap untuk di-cupping, belakangan saya tahu nama kopi itu Liberika.
setelah sedikit intermezzo dengan sang empu dari CoffeLife, mulailah disiapkan segala sesuatunya untuk cupping kopi ini, disinilah teman saya mulai sedikit menjelaskan apa itu cupping kopi? cupping kopi itu untuk melihat potensi dari si kopi itu sendiri, apakah kopi ini cocok di buat cappucino, espresso atau malah lebih cocok dibuat kopi tubruk dan dari proses cupping ini kita bisa melihat apa saja kekurangan dari pe-mrosesan kopi ini, mulai dari tanam, jemur bakan proses sangrainya..
proses cupping ini juga untuk menilai tingkat keasaman, kemanisan, aroma dan rasa buah (hah?? buah rasa buah?? kopi itu buah kan ya??) yang terkandung dalam kopi, cukup ribet emang proses cupping ini karena dari proses cupping inilah penentuan masa depan sang kopi, butuh penciuman yang tajam
serta sensitivitas lidah level dewa, dan saya hanya menganggukkan kepala, menganguk bego!
oke, proses cupping dimulai, kopi liberika yang nuran bawa tadi akan diadu dengan 2 varian kopi lainya, panama dan satunya saya lupa, kopi digiling dengan 2 varian kasar dan halus, kemudian diseduh dengan air mendidih yang sudah didiamkan beberapa saat, lalu kopi yang sudah diseduh tadi didiamkan selam kurang lebih 4 menit, oh iya bubuk kopi tadi diseduh tanpa gula.
nuran sedikit juga menjelaskan bahwa ada manner dalam cupping kopi ini, seperti harus mencelupkan lagi sendok yang telah digunakan untuk mencicipi kopi ke dalam air dan minum air putih setelah mencicipi kopi untuk mencicipi kopi yang lain..
mulailah nuran, temannya dan beberapa barista di CoffeLife memulai proses menentukan masa depan sang kopi liberika, pertaman mulai membiak permukan kopi untuk mencium aroma kopi tersebut, saya sih lebih suka menggunakan istilah mengendus, lalu mulai menyedok dan srupuuuuuuuuuuut, entahlah emang harus seperti itu mereka menyeruput kopi dengan kecepatan maksimal sehingga mengeluarkan suara yang awalnya bikin saya kaget... srupuuuuuuuuuuuut!!!!!!
saya hanya mengikuti proses cupping ini seperti yang sang barista lakukan, karena saya takut salah dan salah itu memalukan,setelah proses icip-icip selesai mulai lah diskusi dilakukan untuk menentukan potensi apa yang di miliki kopi tersebut dan bagaimana peluang ya untuk berhadapan face to face dengan varian kopi yang sudah bayak beredar di indonesia, robusta dan arabika
kesimpulan saya sih cupping kopi ini seperti blind audition pada acara musik the Voice amerika yang pernah saya tonton juri cukup mendengar saya suara penyayi tanpa melihat keutuhan si penyayi tersebut, kalo menurut juri suaranya punya potensi meraka akan pilih, kurang lebih sih begitu..
Manchester United kalah malam itu dan kami nyasar dalam perjalan pulang membuat teman saya sedikit murung, untunglah sepiring lontong sayur dapat sedikit mengobati kekesalah gegara tim kesayangan kalah...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar